Peningkatan Literasi dan Minat Donor Darah Remaja melalui Edukasi dan Simulasi Prosedur di SMA 12 Makassar
Keywords:
Donor darah, remaja, literasi kesehatan, edukasi kesehatan, pengabdian masyarakat, SMA 12Abstract
Ketersediaan darah yang aman dan memadai merupakan kebutuhan penting dalam pelayanan kesehatan, namun Indonesia masih menghadapi kekurangan signifikan dalam pemenuhan stok darah nasional. Dengan kebutuhan ideal sekitar 5,6 juta kantong per tahun, pasokan darah yang tersedia baru mampu memenuhi sekitar 70% kebutuhan, sehingga terjadi kekurangan antara 900.000 dan 1,4 juta kantong darah setiap tahun. Kondisi ini menegaskan perlunya peningkatan partisipasi donor darah, terutama dari kelompok remaja yang memiliki potensi besar sebagai pendonor sukarela. Program pengabdian masyarakat di SMA 12 Makassar ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, memperbaiki persepsi, serta menumbuhkan minat siswa terhadap donor darah melalui sosialisasi, edukasi, diskusi interaktif, simulasi prosedur donor, dan pembagian materi informasi. Kegiatan diikuti oleh 46 siswa, didukung oleh dosen dan mahasiswa pendamping. Evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan: skor pemahaman meningkat dari 54% menjadi 88%, pemahaman syarat pendonor dari 42% menjadi 90%, dan pemahaman prosedur dari 37% menjadi 85%. Perubahan sikap juga terlihat dari menurunnya rasa takut dan persepsi berbahaya terhadap donor darah. Selain itu, 72% siswa menyatakan bersedia menjadi pendonor setelah memenuhi syarat. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan, mengurangi persepsi negatif, serta menumbuhkan komitmen remaja untuk berpartisipasi sebagai pendonor darah sukarela.





